Setelah terpisah jauh dari kenangan yang manis pahit akhir-akhir ini, rasanya pikiranku mulai tergerak akan sebuah stimulasi yang dilontarkan seorang kakak yang sangat mencintai adiknya itu. Kakak beradik luar biasa yang mungkin saat ini memang tak ada lagi sangkut pautnya denganku, dengan kehidupanku setelah apa yang kuperbuat.
Kadang jika mengingat hal semacam itu, rasanya sangat berat dan sulit, karena nyatanya aku tak pernah dinilai setidak berharga saat ini, atau mungkin seberharga saat ini. Hal ini bisa ku ucapkan menurut tolok ukur pemikiran sang adik yang memang penuh misteri dan kadang penuh tekanan. Mungkin memang tak sepantasnya aku ucapkan, namun stimulasi sang kakak itu selalu terngiang di telingaku hingga saat ini,
“Jika kamu menyayangi adikku, maka tunggulah ia sampai ia menikahimu. Karena aku lebih rela kalian menikah dari pada pacaran. Jangan bawa adikku dalam perbuatan dosa. Karena keluarga kami adalah keluarga yang anti-pacaran.”
Subhanallah... Begitu indah jika kupikirkan dengan hati dan pikiran yang jernih. Perkataan yang sarat akan wibawanya itu sungguh menyiratkan kasih sayang yang luar biasa besarnya. Aku bahkan berpikir betapa ada rasa iri karena aku tak memiliki abang semacam itu, tapi aku sudah sangat bersyukur dengan keadaanku saat ini dan tentunya hal itu pun membuatku berpikir keras. Kalian mungkin takkan tahu betapa aku merindukan sosok sang adik, atau betapa aku kagum pada bagaimana sang kakak. Tapi apalah arti dari semua itu jika kita kaitkan semuanya kembali pada kenyataan hidupku.
Kini ketika sang adik meninggalkan kekosongan yang menjelma menjadi penderitaan, aku baru tersadar arti dari sebuah kesabaran. Inilah yang sang kakak tegaskan padaku sejak dulu, inilah yang seharusnya aku sadari sejak dulu dan menjadi tuntunan hidup bagiku. Karena tak ada luka, derita dan air mata yang abadi di dunia ini. Allah menciptakan segalanya seimbang, sehingga rasa sakitku pun akan seimbang dengan rasa bahagia yang kuperoleh, hanya saja mungkin ini akan terasa jika aku tahu bagaimana caranya bersyukur.
Lagi pula kepedihan yang terasa saat ini mungkin takkan kentara dengan pederitaan apa yang telah aku torehkan pada binar mata kedua orang tuaku. Aku semakin disudutkan pada kenyataan bahwa aku harus banyak bersabar dan bersyukur dalam keadaan apa pun. Mungkin sillet dan hal lainnya memang tak seharusnya jadi pelampiasan marahku yang tak perlu. Aku memang harus lebih menghargai diriku, hidupku dan kehidupanku yang telah Allah gariskan kepedihan tanda kasihnya. Subhanallah...

