Monday, March 18, 2013

Seucap Tanda Syukur dan Sabar



Setelah terpisah jauh dari kenangan yang manis pahit akhir-akhir ini, rasanya pikiranku mulai tergerak akan sebuah stimulasi yang dilontarkan seorang kakak yang sangat mencintai adiknya itu. Kakak beradik luar biasa yang mungkin saat ini memang tak ada lagi sangkut pautnya denganku, dengan kehidupanku setelah apa yang kuperbuat.

Kadang jika mengingat hal semacam itu, rasanya sangat berat dan sulit, karena nyatanya aku tak pernah dinilai setidak berharga saat ini, atau mungkin seberharga saat ini. Hal ini bisa ku ucapkan menurut tolok ukur pemikiran sang adik yang memang penuh misteri dan kadang penuh tekanan. Mungkin memang tak sepantasnya aku ucapkan, namun stimulasi sang kakak itu selalu terngiang di telingaku hingga saat ini,

“Jika kamu menyayangi adikku, maka tunggulah ia sampai ia menikahimu. Karena aku lebih rela kalian menikah dari pada pacaran. Jangan bawa adikku dalam perbuatan dosa. Karena keluarga kami adalah keluarga yang anti-pacaran.”

Subhanallah... Begitu indah jika kupikirkan dengan hati dan pikiran yang jernih. Perkataan yang sarat akan wibawanya itu sungguh menyiratkan kasih sayang yang luar biasa besarnya. Aku bahkan berpikir betapa ada rasa iri karena aku tak memiliki abang semacam itu, tapi aku sudah sangat bersyukur dengan keadaanku saat ini dan tentunya hal itu pun membuatku berpikir keras. Kalian mungkin takkan tahu betapa aku merindukan sosok sang adik, atau betapa aku kagum pada bagaimana sang kakak. Tapi apalah arti dari semua itu jika kita kaitkan semuanya kembali pada kenyataan hidupku.

Kini ketika sang adik meninggalkan kekosongan yang menjelma menjadi penderitaan, aku baru tersadar arti dari sebuah kesabaran. Inilah yang sang kakak tegaskan padaku sejak dulu, inilah yang seharusnya aku sadari sejak dulu dan menjadi tuntunan hidup bagiku. Karena tak ada luka, derita dan air mata yang abadi di dunia ini. Allah menciptakan segalanya seimbang, sehingga rasa sakitku pun akan seimbang dengan rasa bahagia yang kuperoleh, hanya saja mungkin ini akan terasa jika aku tahu bagaimana caranya bersyukur.

Lagi pula kepedihan yang terasa saat ini mungkin takkan kentara dengan pederitaan apa yang telah aku torehkan pada binar mata kedua orang tuaku. Aku semakin disudutkan pada kenyataan bahwa aku harus banyak bersabar dan bersyukur dalam keadaan apa pun. Mungkin sillet dan hal lainnya memang tak seharusnya jadi pelampiasan marahku yang tak perlu. Aku memang harus lebih menghargai diriku, hidupku dan kehidupanku yang telah Allah gariskan kepedihan tanda kasihnya. Subhanallah...

Friday, March 1, 2013

Cinta itu indah pada tempatnya...

Kadang jika memikirkan apa itu cinta mungkin yang akan ku pikirkan adalah seseorang yang sempurna. Namun, semakin aku menunggu, aku semakin sadar kesempurnaan yang didambakan mungkin memang tidak pernah ada di dunia ini. Ya, jawaban yang ku peroleh mungkin hanya berkisar pada ketidak mampuan, ketidak inginan, ketidak berdayaan dan kadang pengkhianatan atas hal-hal yang ku ukiri kepercayaan pada mereka, dan bahwa kesempurnaan memang hanyalah milik Allah.

Seiring berjalannya waktu paradigma yang tertanam semacam itu di otakku mulai bisa ku pahami sebagai suatu kesalahan. Ku akui menjadi seorang wanita pada umumnya memang beginilah perkembangan psikologis yang mungkin akan terjadi padaku mengingat aku adalah seorang remaja, bahwa aku akan menemui diriku yang lebih memikirkan perasaan dan bersifat subjektif dalam memandang kehidupan ini. Ini mungkin menyebabkan tak adanya keseimbangan denganku yang berusaha bersikap logis dan realistis.

Mungkin sebagian dari kalian akan menyebutku sebagai orang yang munafik jika kalian tahu bagaimana sebetulnya keadaanku saat ini. Tapi ketahuilah wahai Saudaraku, sesungguhnya aku lebih memilih Allah belum memberikanku perasaan semacam cinta ketimbang aku tersesat karena virus tersebut. Sekarang ketika aku menyadari melihat bagaimana diriku, rasanya ada sedikit penyesalan karena salah melangkah dan salah berbuat. Aku menyadari bagaimana dosa yang ku guratkan dan lukiskan pada buku-buku yang ditulisi malaikat mengenai amal-amalan yang kelak ku pertanggung jawabkan. Jawaban dari pertanyaan dan pernyataanku ini mungkin hanyalah berkisar pada kesadaran diri. Ya, bahwa hal semacam ini takkan terjadi bila aku lebih cepat untuk menyadarinya, dan lebih peka dalam bersikap. Seharusanya mungkin lebih tepat lagi jika aku membatasi pergaulanku dengan kaum adam itu.

Inilah salahnya aku, karena ketika virus ini mulai menggerogoti hati dan pikiranku aku malah membiarkan semuanya tanpa melakukan apapun. Kesalahan ini mulai berlanjut saat pesan-pesan berdatangan silih berganti, telepon berdering dan sebagainya. Aku paham mungkin titik berat dari hal-hal yang semacam itu adalah aku sendiri. Tapi sejujurnya aku meyesali semuanya. Intinya adalah tak mau menyadari hijab diantara pria dan wanita seperti aku ini adalah sebuah kesalahan. Tapi aku pun tak bisa menyalahkan siapapun antara pemuda yang baik itu atau orang-orang yang mengambil bagian dari kedekatan kami. Ini salahku karena tak mengindahkan larangan-larangan Allah, peringatan-peringatan mulia Baginda Rasulullah, dan anjuran-anjuran guruku mengenai jarak yang tetap harus dijaga.

Sekarang ketika penyesalan demi penyesalan menerpaku, aku baru saja menyadari apa itu arti dari sebuah iman yang dengan kokoh orang tuaku tanamkan sejak aku kecil. Mereka yang selalu berusaha memberikan fasilitas terbaik untuk study-ku tanpa peduli berapa uang yang mereka keluarkan. Mereka yang selalu mencurahkan segenap tenaga hanya demi suapan nasi yang ku cerna setiap harinya. Mereka yang selalu tertawa dan berduka menemaniku. Mereka yang adalah segala-galanya dalam hidupku. Mereka yang adalah anugrah paling luar biasa yang pernah Allah berikan.

Jika ku pikirkan secara mendalam saat ini, kisah cinta yang sesaat dan hanya membuang waktuku mungkin hanya akan memberikan dampak yang negatif bagi masa depanku. Aku tak ingin membinasakan biasan senyum pada bibir mereka yang merenta dan menggantikannya dengan senyuman pahit nan getir. Aku tak ingin terus membuat mereka terluka dan menangis hanya karena aku yang membuang masa hidupku yang pendek demi apa yang tak pasti. Mungkin hal terbaik saat ini yang bisaku tegaskan hanyalah bahwa aku ingin menata hidup yang lebih baik, namun bukan berarti aku membuang apa yang dinamakan cinta. Cinta adalah anugrah dan fitrah yang memang harus disyukuri. Cinta itu indah, bila pada tempatnya. Maka, bila apa yang kurasakan dan terjadi padaku adalah yang dimaksud dengan cinta, akan lebih baik bila aku menyimpannya saja. Entah sebagai kenangan atau sebagai masa depan yang Allah tunda untukku.


^_^